Jumat, 20 April 2012

Ayah, Kaulah Idolaku !


Suatu hari seorang guru menyuruh muridnya menyebutkan siapa idola mereka dan mengapa dia menyukai idolanya tersebut. Ya, sang guru itu menunjuk muridnya dari belakang. Lalu murid yang duduk di belakang paling pojok pun mulai melangkahkan kaki dan maju kedepan kelas.

“ Baiklah, Idola saya adalah Supermen. Kenapa bisa supermen? Karena supermen begitu kuat, ia sang pemberantas kejahatan.” Kata murid yang duduk di pojok itu. Setelah ia selesai mengutarakan alasan mengapa ia suka pada supermen itu, dia duduk kembali. Sang guru pun tersenyum dan mengangguk.

Lalu murid lainnya maju lagi.

“ Kalau Idolaku adalah Mike Tyson. Dia seorang pegulat yang begiru hebat dan handal dalam mengalahkan lawan. Dan cita-citaku kelak, aku ingin menjadi sekuat mike Tyson dan menjadi pegulat terkenal seperti Mike Tyson.” Jelas murid laki-laki itu dengan suara yang semangat membara bagai api yang meluap-luap. Riuh tepuk tangan pun sempurna menghiasi langit kelas. Seperti halnya sang guru pun mengangguk dan tersenyum.

Murid yang lainnya pun maju lagi.

“ Baiklah teman-temanku sekalian. Aku akan memberi tahu kalian siapa idolaku. Idolaku adalah Bill Gates. Dia adalah seorang pendiri Microsoft. Dengan kepintarannya dalam membuat perangkat lunak Microsoft, dia menjadi orang terkaya di dunia. Kelak aku akan seperti Bill Gates, pencipta sebuah software baru.”  jelas murid yang memakai kaca mata itu yang berkali-kali membenarkan kaca matanya yang tidak rusak. Suara ber-waah kagum pun terdengar di ruangan kelas, pertandakan sebuah kekaguman.

Murid demi murid telah maju kedepan. Giliran murid laki-laki yang duduk di pojok depan yang belum maju. Ia dengan ragu-ragu melangkah kedepan. Setelah tepat ada di depan kelas, Ia memandang sekitar ruangan. Semua mata sempurna tertuju padanya. Entahlah, sepertinya ia gugup. Ia langsung tertunduk.

“ Kenapa denganmu nak? Ayolah mulai ceritakan siapa idolamu?” Tanya sang
guru dangan senyuman yang menenangkan.

Sang murid pun langsung berani menatap sekitar. Kini ia berani menatap semua mata teman-temannya .

“ Idolaku adalah….. “ sejenak terputus sebuah kalimat dari suaranya.
“ Idolaku adalah…..” lagi-lagi terputus kalimat itu. Teman-temannya menatap dengan heran dan aneh.
“ Idolaku adalah Ayahku….”  Sejenak terputus lagi suara itu. Murid yang berada di kelas itu pun langsung menatap satu sama lain. Begitu pun sang Guru, Sang Guru pun langsung heran, beliau langsung mengubah posisi duduknya. Ayah? Kenapa Ayah??
“ Ya, idolaku adalah Ayahku. Aku begitu mengidolakan beliau. Karena beliau selalu tulus untukku. Beliau selalu mengalah demi kepentingan anaknya. Beliau selalu bekerja keras untuk mencari nafkah demi keluarganya. Walaupun ayahku bukanlah orang yang hebat seperti orang-orang yang duduk dalam sebuah kursi megah, namun ayah selalu mendorongku untuk terus maju  dan maju. Ayahlah yang mengajarkanku arti sebuah tanggung jawab. Ayah juga yang selalu mengajarkan arti sebuah kesederhanaan untuk anak-anaknya tanpa lupa harus bersyukur kepada Sang Maha Pencipta. Beliau selalu tersenyum melihat anaknya senang, walau mungkin perasaan sedang tidak berdamai dengannya. Karena itulah ayah adalah seorang lelaki terhebat didunia ini. Itulah kenapa saya menjadikan ayah sebagai idola saya.” Jelas murid laki-laki itu. Kali ini kegugupannya hilang. Ia mengucapkannya dengan rasa bangga.
 Murid dikelas itu pun langsung tersenyum, begitu pun Sang Guru, ia tersenyum simpul pada anak itu.

 
Disadari atau tidak, terkadang kita melupakan sesosok ayah yang sederhana. Padahal sesosok ayah begitu penting bagi kehidupan ini…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar